139

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Memanas

3 min
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Memanas
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Memanas

JAKARTA, Rabu, 14 Oktober 2026 | Vistara – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), setelah menguatnya harga minyak dunia menambah tekanan terhadap mata uang Indonesia. Rupiah tercatat melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.918 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.900 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah. Kondisi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global.

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” kata Lukman di Jakarta, Rabu.

Tekanan di pasar keuangan terjadi ketika risiko geopolitik kembali membayangi pasar minyak dunia. Mengutip Anadolu, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi milik Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur negara tersebut, menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi pada Selasa malam.

Serangan tersebut memicu kebakaran kecil. Tim tanggap darurat dilaporkan telah menangani insiden dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Otoritas setempat menyatakan tidak ada laporan korban luka maupun korban jiwa.

Perkembangan itu turut menjadi sorotan pasar energi. Berdasarkan laporan Xinhua, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,89 dolar AS atau 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember menguat 1,93 dolar AS atau 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel di bursa ICE Futures Exchange London.

Kenaikan harga minyak menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat meningkatkan tekanan biaya impor energi dan memengaruhi kebutuhan valuta asing. Meski demikian, besarnya dampak terhadap rupiah tetap bergantung pada perkembangan harga energi, arus modal, serta kondisi pasar keuangan global.

Di tengah tekanan dari kenaikan harga minyak, rupiah masih memperoleh peluang dukungan dari koreksi indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST).

Sentimen tersebut berkaitan dengan pernyataan bernada dovish dari Presiden Federal Reserve Bank of New York, John C. Williams, mengenai prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Menurut Lukman, Williams menilai kenaikan suku bunga sebanyak satu kali masih menjadi pertimbangan untuk tahun ini, tetapi kenaikan tambahan tidak diperlukan pada 2027.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter AS. Jika tekanan penguatan dolar mereda, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpeluang mendapatkan ruang untuk bergerak lebih stabil.

Namun, arah pergerakan rupiah masih bergantung pada kombinasi sentimen global, terutama perkembangan harga minyak dan ekspektasi suku bunga AS.

Pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu malam. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve serta arah pergerakan dolar AS.

Inflasi inti AS diperkirakan meningkat dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen. Sementara itu, inflasi umum diproyeksikan naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.

Apabila inflasi tercatat lebih tinggi daripada perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Kondisi tersebut dapat menopang dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.

Sebaliknya, apabila data inflasi menunjukkan tekanan harga yang lebih terkendali, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS dapat berubah dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih stabil.

Berdasarkan perkembangan tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan ditentukan oleh keseimbangan antara kenaikan harga minyak dunia, perkembangan risiko geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, dan respons pasar terhadap data inflasi AS.