129

Karhutla Picu Ancaman Kesehatan, 277.075 Kasus ISPA Tercatat Di Tujuh Provinsi

3 min
Karhutla Picu Ancaman Kesehatan, 277.075 Kasus ISPA Tercatat Di Tujuh Provinsi
Karhutla Picu Ancaman Kesehatan, 277.075 Kasus ISPA Tercatat Di Tujuh Provinsi

JAKARTA, Rabu, 14 Oktober 2026 | Vistara – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen terjadi pada anak usia 0–5 tahun.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus untuk mendeteksi potensi peningkatan gangguan kesehatan sekaligus memperkuat respons di wilayah terdampak.

Kemenkes bersama pemerintah daerah telah meningkatkan pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas medis, serta distribusi logistik. Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung penanganan dampak karhutla.

Pemerintah juga melaporkan dukungan logistik berupa lebih dari 2,8 juta masker yang didistribusikan melalui berbagai sumber, baik pemerintah pusat maupun daerah.

Paparan asap kebakaran hutan dan lahan berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. Kemenkes mengingatkan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lain yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma.

Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih ketat.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan,” kata Aji di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Kemenkes mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu dan minum.

Penggunaan nebulizer juga harus berdasarkan indikasi medis dan petunjuk tenaga kesehatan, bukan dilakukan secara mandiri tanpa pemeriksaan yang sesuai.

Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan fisik. Kabut asap yang berlangsung lama juga dapat memicu stres dan kecemasan akibat terganggunya aktivitas sosial, pendidikan, pekerjaan, serta kegiatan ekonomi masyarakat.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga rutinitas harian dan mengupayakan agar anak tetap beraktivitas di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih bersih.

Orang tua juga diminta memperhatikan perubahan perilaku anak, termasuk gangguan tidur dan perubahan pola makan. Jika keluhan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

“Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk,” tandasnya.

Untuk mengurangi risiko paparan polusi, Kemenkes mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus. Apabila masker tersebut tidak tersedia, masker medis atau masker kain berlapis dapat menjadi alternatif, meskipun tingkat perlindungannya tidak setara dengan respirator yang terpasang dengan baik.

Bagi bayi dan balita, perlindungan utama adalah mengurangi paparan asap. Penggunaan masker tidak boleh dijadikan andalan untuk melindungi kelompok usia tersebut.

Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah memperkuat kesiapan layanan kesehatan dan perlindungan bagi kelompok rentan. Fasilitas yang memungkinkan dapat dioptimalkan menjadi ruang dengan udara lebih bersih, dilengkapi penyaring udara yang sesuai serta akses pelayanan kesehatan.

Perlindungan tersebut terutama dibutuhkan oleh bayi, balita, ibu hamil, dan warga yang rumahnya sulit terlindung dari paparan asap. Sejumlah daerah terdampak dilaporkan telah menyediakan ruang oksigen.

Aji mengatakan pelaksanaan langkah tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat. Koordinasi juga diperlukan antara dinas kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta organisasi perangkat daerah terkait.

Besarnya jumlah kasus ISPA yang tercatat hingga pertengahan Oktober menjadi pengingat pentingnya penanganan dampak kesehatan karhutla. Selain memadamkan kebakaran, perlindungan terhadap masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan, menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko paparan asap.